10 Nasihat Ibrahim Bin Adham

  • Whatsapp

Dalam hitungan kasar, paling tidak tiga bulan kita mengalami yang namanya kehidupan yang tidak normal. Seiring berjalannya waktu, tentunya kehidupan ini harus diatasi, karena itu muncullah istilah new normal. Sesuatu yang dulunya tidak normal sekarang harus dianggap suatu yang normal.

Bayangkan, dulu kita melihat orang menggunakan masker dianggap lebay, namun sekarang hal itu sudah menjadi peraturan. Dulu kalau kita selalu mencuci tangan dengan sabun maka dianggap sok bersih, sekarang sudah menjadi keharusan. Dulu jika bersalaman dianggap akrab, namun sekarang yang akrab adalah tidak menyentuh. Dulu kalau kita tidak dekat dianggap sombong, maka sekarang hal itu pula yang harus dijalani.

Baca Juga:

Tentunya kehidupan semacam ini tentu membuat kita tidak nyaman. Namun itulah yang terjadi, suka atau tidak suka kita harus menjalaninya. Lalu pertanyaannya apa yang membuat semua itu kita lakukan? Semuanya karena virus yang sangat menghebohkan dunia, yaitu virus Corona, atau dikenal dengan Covid-19.

Kehidupan kita ini tentu tidak normal, namun sekarang harus menjadi sesuatu yang normal, agar masing-masing kita terjaga dari penyebaran virus ini. Lalu sampai kapan ini harus kita lakukan? Sampai ada vaksin yang bisa menyelesaikan masalah ini. Jadi sebelum vaksin itu ditemukan maka kehidupan kita akan berlangsung tidak normal dan dalam bahasa kita sekarang ini adalah new normal.

Bagi kita di Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim maka selain menunggu kehadiran vaksin tersebut, tentunya selalu berdoa agar virus ini hilang. Berbagai ritual dilakukan mulai dari melakukan qunut nazila, zikir, doa bersama bahkan ada juga yang melakukan instighosah yang intinya mengharapkan agar Allah segera menghilangkan virus ini. Tetapi sepertinya doa-doa kita belum di-ijabah Allah, bahkan dari laporan gugus tugas Covid-19 mereka yang terkena positif Covid-19 bukan semakin menurun bahkan semakin menaik grafiknya. Apa yang terjadi dengan doa kita?
Bukankah Allah berfirman di dalam Alquran Surat Ghafir (40) ayat 60 : “Wa qoola robbukum ud’uuniii astajiblakum, innallaziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatii sayadkhuluuna jahannama daakhiriin.”

Artinya: Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.

Tidak hanya sekali Allah berjanji akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Di dalam ayat yang lain dalam Surat Al Baqarah ayat 186 Allah berfirman: “Waizaa sa’alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qorii, ujiibu da’watad-daa’i izaa da’aani falyastajiibuu lii walyu’minuu bii la’allahum yarsyuduun.”

Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.

Lalu kenapa doa-doa kita belum juga dikabulkan Allah, apa yang salah dalam doa kita atau mungkin cara kita yang berdoa, atau mungkin permintaan kita yang salah? Mungkin pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul dalam benak kita.
Pertanyaannya sekarang pernahkah kita mengoreksi diri kita sendiri. Boleh jadi bukan doanya yang salah, tetapi karena kita sendirilah yang belum ‘menyatu’ dengan doa-doa yang kita sampaikan. Ada kemunafikan di dalam diri kita, sehingga Allah belum mengabulkan doa-doa kita tersebut.

Dalam kitab Duratun Nasihin fi Wa’zhi wal Irsyad, karya Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir al-Khawbawi, mengutip satu kisah yang dituturkan oleh Syaqiq Al-Bakhi, bahwa suatu hari Ibrahim bin Adham salah satu tokoh sufi yang cukup terkenal yang mulanya seorang pangeran dari sebuah kerajaan di Balkh yang bernama asli Abu Ishaq Ibrahim bin Adham.

Sebagai seorang pangeran awalnya ia hidup dengan segala kemewahannya, namun akhirnya ia mendapat hidayah lalu ia meninggalkan kemewahan dan gelar kebangsawanannya itu karena dianggap membuat dirinya ‘menjauh’ dari Allah. Ia lalu mengembara dan berguru kepada ahlinya tentang Islam dan akhirnya ia menjadi seorang sufi yang sangat terkenal di masanya.

Saat itu Ibrahim bin Adham sedang berjalan melewati kota Basrah, mendadak masyarakat di sekitarnya mengerumuninya karena ada yang tahu bahwa Ibrahim merupakan syekh yang alim dan tokoh sufi yang terkenal. Lalu ada yang bertanya, “Wahai Abu Ishaq -menyebut nama aslinya- Allah berfirman dalam surat Ghafir ayat 60 : Wa qoola robbukum ud’uuniii astajiblakum (Berdoalah kepada-ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu). Tetapi kenapa doa-doa kami tidak terkabul juga, padahal kami sudah berdoa selama bertahun-tahun?”

Ibrahim tidak langsung menjawab, ia mencoba merenungkan jawaban dari apa yang ditanya penduduk Basrah tersebut. Tak lama kemudian, ia menjawab, “Wahai masyarakat Basrah, ada sepuluh hal, sehingga doa kalian tertolak.”
Mendengar jawaban Ibrahim tersebut, lalu masyarakat bertanya kembali, “Apa yang sepuluh itu Ya Abu Ishaq?” tanya mereka dengan penuh antusias.

Ibrahim lalu menjelaskan kesepuluh hal kenapa doa mereka tertolak. Nah, sekarang mari kita introspeksi diri, kalau sudah tiga bulan saja kita meminta Allah untuk menghilangkan virus Corona ini, Allah belum mengabulkan. Boleh jadi dari sepuluh hal yang dijelaskan Ibrahim bin Adham pada penduduk Basrah yang tertolak doanya sampai bertahun-tahun ada pada diri bangsa ini. Syukurnya kita baru tiga bulan, lalu ada yang menasehati kita, sementara penduduk Basrah sudah bertahun tahun baru mereka tahu kesalahan mereka setelah diberitahukan Ibrahim bin Adham.

Lalu apa yang sepuluh hal itu? Kata Ibrahim, “Pertama, Kalian mengaku mengenal Allah, namun kalian tidak melaksanakan hak-Nya. Kedua, kalian membaca Alquran, namun tidak melaksanakan kandungan dan petunjuknya. Ketiga, kalian mengaku mencintai Rasulullah namun kalian tidak melaksanakan sunnahnya. Keempat, kalian mengaku bermusuhan dengan syaitan, namun kalian tetap mengikuti langkah-langkahnya. Kelima, kalian mengatakan ingin masuk surga, namun kalian tidak melaksanakan amalan untuk masuk ke dalam surga. Keenam, kalian mengatakan ingin selamat dari siksa neraka, namun perbuatan kalian menjurus ke neraka. Ketujuh, kalian mengatakan mati itu sesuatu yang hak, namun kalian tidak mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain, namun aib sendiri tidak pernah kalian perhatikan. Kesembilan, kalian senang menikmati karunia Allah, namun kalian tidak pandai bersyukur dengan-Nya dan kesepuluh, kalian mengubur mayat saudara kalian, namun kalian tidak pandai mengambil pelajaran darinya.” ungkap Ibrahim bin Adham dan langsung pergi dari kerumunan orang.

Mendengar hal itu, masing-masing mereka sadar bahwa apa yang dikatakan Ibrahim bin Adham sesungguhnya sangat benar. Mereka hanya berpikir tentang Allah kenapa tidak mengabulkan doa-doa mereka sementara Allah berjanji untuk mengabulkan doa-doa hamba-Nya, sementara mereka tidak berpikir tentang kondisi mereka sendiri.

Lalu coba kita tarik nasihat Ibrahim bin Adham ini kepada kita saat ini, apakah kita termasuk di antara salah seorang yang dikatan Ibrahim bin Adham itu? Kalau ia, maka wajar jika Allah menunda bahkan menolak doa-doa kita. Karena kita hanya berpikir ‘di luar’ diri kita, padahal masalahnya ada ‘di dalam’ diri kita. Maka bersihkan dulu apa yang ada ‘di dalam’ diri kita.
Yakin dan percayalah jika masalah di dalam diri kita ini selesai, maka pasti Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Jadi introspeksilah diri sendiri, jangan hanya menyalahi orang lain. Tetapi berusahalah agar nasihat Ibrahim bin Adham itu dapat kita laksanakan dengan baik, insha Allah, doa-doa kita akan terkabul. Semoga!

Pos terkait